Showing posts with label musisi 'n band. Show all posts
Showing posts with label musisi 'n band. Show all posts

ANDRA & THE BACKBONE DISCOGRAPHY


Share/Save/Bookmark

Profil band yang pengen otak bahas kali ini yaitu Andra & The Backbone merupakan salah satu grup musik dari Indonesia yang beberapa waktu lalu salah satu lagunya menjadi soundtrack staying alive 2009 (2009 apa 2010 ya??? tau ahh lupa). Anggotanya berjumlah tiga orang yaitu
Stevie Morley Item dilahirkan pada tanggal 28 Maret 1979 di Jakarta sebagai anak kedua dari empat bersaudara hasil pernikahan Yopie Item dan Evie Aquanthie. Mulai mengenal musik sejak SD kelas 6, alat musik yang pertama kali dikuasai adalah organ, tetapi kemudian Stevie lebih tertarik dengan alat musik lain yaitu Guitar.

Saat itu tepi tertarik belajar guitar karena melihat temannya sedang bermain guitar. Pada saat itu juga Stevie langsung ingin belajar dan langsung mencari cord2 lagu Guns n Roses yang berjudul sweet child o mine. Kemudian dia pulang dan karena di rumahnya cukup banyak koleksi guitar milik bokapnya Yopie Item, stevie langsung mengulik cord yang dipelajari dari temannya itu.
Saat SMP stevie sudah mulai menguasai guitar dengan sangat baik dan sudah mulai ngeband bersama teman2 SMPnya, tapi band ini jarang sekali latihan, stevie malah lebih sering bermain guitar sendiri di kamar untuk lebih memperdalam ilmu guitarnya.
Setelah memasuki SMA masih tetap ngeband dan terlibat di banyak tempat karena stevie yang selalu identik dengan band2 cabutan dan tidak mempunyai band yang tetap. Kelas 3 SMA stevie ikutan audisi sebagai guitarist-nya Iwa K Band dan diterima sebagai additional player di Band Iwa K itu yang pada saat itu akan melakukan tour. Yang ke dua ada Dedy Lisan dilahirkan pada tanggal 2 Juli 1976 sebagai anak sulung dari tiga bersaudara hasil pernikahan Matnur Lisan dan Supriati. Kenal musik sejak SMP dan mulai sesekali ngeband ketika duduk di bangku SMA. Senang bermain gitar meski tidak mahir dan lebih nyaman ketika menjadi vokalis. Ketika kuliah di FISIP UI, Dedy beberapa kali tampil di atas panggung dalam acara kampus. Musik professional mulai digelutinya ketika ikutan bermain di kafe-kafe seputaran Jakarta selama setahun. Sayang dunia jurnalistik kemudian lebih digelutinya.
Selama setahun kegiatan sebagai jurnalistik sepak bola di Tabloid Soccer menjadi rutinitasnya. Meski sibuk sebagai jurnalis, kegiatan menyanyi tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Tapi kali ini bukan lagi di atas panggung lebih sebagai song writer dan berkutat di studio.
Dunia musik kembali digeluti ketika Majalah Hai merekrutnya sebagai jurnalis musik. Pergaulan di antara musisi semakin intens dilakukan. Lewat Hai Dedy kenal para musisi tanah air dan berkesempatan mewawancarai band mancanegara. Dan lewat Hai juga perkenalannya dengan Andra dan Stevie terjadi. Sebelumnya sebagai jurnalis, Dedy hanya bertemu Andra dan Stevie ketika dalam liputan untuk Hai.
Yang terakhir dan yang paling keren nih Andra Junaidi, dilahirkan pada tanggal 17 Juni 1972 sebagai anak bungsu dari enam bersaudara hasil pernikahan pasangan A. Ramadhan dan S.M. Fadilah. Andra mengaku terlambat mengenal musik, karena baru SMP lewat ekskul musiklah ia mulai tertarik pada musik. Pertama ia bermimpi untuk menjadi seorang drummer terkenal, tapi karena masalah biaya untuk membeli Drum sangat mahal dan setelah melihat teman2nya asyik memetik gitar, hobinya pun berganti. Bermodal gitar pinjaman, ia mulai belajar gitar, dan memang karena bakat, kemampuan dan teknik permainannya berkembang sangat pesat.
Di SMPN 6 inilah, Andra bertemu dengan Dhani, Wawan, dan Erwin kemudian mereka sepakat untuk membentuk band dengan nama Dewa. Aliran rock yang pertama mereka geluti akhirnya pindah ke jazz akibat pengaruh Erwin. Masalah kemudian bergelayut pada kehidupan Andra yaitu ketika ia harus memilih antara karirnya sebagai pemusik atau meneruskan kuliahnya di jurusan desain interior. Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Andra memilih untuk terus meniti karir di dunia musik, tapi bukan berarti langkahnya tetap mulus, karena kedua orang tuanya tidak setuju kalau Andra harus melepaskan bangku kuliahnya. Layaknya orang tua biasa, mereka ingin melihat Andra meraih gelar sarjana seperti kelima kakaknya yang sudah selesai. Tapi akhirnya kedua orang tuanya mau mengerti dan memang terbukti pilihan Andra tepat. Setelah melepaskan kuliahnya, konsentrasinya ke Dewa 19 membuat kreativitasnya lebih tergali. Kontribusi Andra terhadap komposisi lagu Dewa 19 tak bisa dipungkiri.
Sampai pada tahun 2006 saat jadwal Dewa19 tidak terlalu padat akhirnya Andra mulai serius membuat Album solonya itu. Karena ditahun-tahun sebelumnya Andra bertemu dengan Stevie Morley Item yang kala itu sebagai additional player Dewa19 dan merasa cocok dengan gaya permainan Stevie, jauh2 hari Andra sudah pernah menawarkan kepada Stevie untuk ikut bergabung dalam project tersebut. Mereka berdua seperti mempunyai misi dan visi yang sama dalam hal bermusik.

Ditahun yang sama Andra & Stevie menemukan seorang Dedy Lisan yang menurut mereka cukup cocok membawakan lagu2 ciptaan Andra. Setelah mereka membuat demo dan menyerahkan ke label rekaman, dengan jalan yang bisa dibilang cukup mulus akhirnya mereka berhasil menelorkan album pertama mereka Andra & The Backbone dan mengusung nama yang sama untuk nama band mereka. Akhirnya berhasil juga perjuangan seorang Andra mempunyai Album yang sudah lama di nanti2kan oleh banyak penggermarnya. Dengan keluarnya Album tersebut bukan berarti Andra tidak setia lagi dengan band terdahulunya Dewa19, justru hal ini yang tetap mempererat hubungannya dengan Dhani dan Dewa19 itu sendiri. Selain dapat restu dan persetujuan dari Dhani juga karena Dewa19 tetap merupakan prioritas utama Andra dan Backbone sebagai selingan dan mainan barunya.
Grup musik ini dibentuk pada tahun 2007. Lagu utamanya ialah Musnah yang dipopulerkan ulang oleh Mulan Jameela. Album pertamanya ialah Andra & The Backbone, dirilis tahun 2007. Hits lain dari album ini adalah Sempurna yang dipopulerkan ulang oleh Gita Gutawa, serta hits lainnya adalah Lagi Dan Lagi, Dan Tidurlah, Terdalam, Perih, serta Dengarkan Aku.



sumber

YUSHA YANG HILANG


Share/Save/Bookmark
Mestinya Ku Akhiri Semua,,,,Awal ketertarikan ku dengan J’Rock. Sebelumnya kalau latihan sama band ku, kami selalu bawakan lagu-lagu yang lagi hit,,,kaya Peterpan,,ungu,,,ato apalah yang penting senang. Waktu itu aku masih megang gitar…hingga suatu hari Bassis menyuruh ku dengerin lagu baru,,,,lagu J’Rock, keren (dia bilang gitu). Namun aku sama sekali ga tertarik,,,pertama gitarnya yang sulit (sebenarnya basic ku di Drum http://www.emocutez.com)…and ke dua, waktu dengar pertama kali kesan ku pada lagunya sangat berantakan…(hee,,,maaf http://www.emocutez.com)
Beberapa bulan menjelang,,,,setelah bubar dari band lama ku (Casper band) aku bentuk band baru. Kali ini aku yang maen Drum…(akhirnya kembali lagi ke awal http://www.emocutez.com). Terbentuklah Yusha band…yang beranggotakan Ari (vocal), Jhondri (gitar), Akbar (bass), dan terakhir Aku (drum). Kami sepakat mengusung lagu beraliran Jepang….(sumpah waktu itu ga tau sama sekalihttp://www.emocutez.com).
Lepaskan Diri Ku…lagu andalan yang sering kami bawa pas latian…sampai akhirnya ku dengar lagi “Mestinya Ku Akhiri Semua” yang lama sudah tak terdengar lagi lagunya di telinga ku. GILA,,,ternyata ni lagu keren banget,,,(jadi bingung, waktu itu ko jelek ya??) langsung jadi arsip,,buat latihan.
Sebulan jalan,,,kami coba untuk ikut pestival. Namun gagal karna waktu itu aku jatuh dari motor,,,yang mengakibatkan kami ga bisa nampil…hiks
Akbar keluar,,,,sedih juga rasanya namun apa mau dikata. Dia bilang mau serius sekolah dulu,,,soalnya waktu itu dia udah kelas akhir.
keluarnya bassis ga membuat kami nyerah gitu aja…setelah pencarian lama, akhirnya kami bertemu Ipay (bass),,,disinilah cikal bakal aku kenal dengan lagu-lagunya L'acr En Ciel (Laruku). Ipay ini sudah lama tau dengan musik-musik jepang,,,khususnya laruku. Dari Ipay lah aku jadi sering mendengar lagu-lagu dari negeri jepang tersebut. Ternyata tu band langsung ngena dihati,,lagu pertama yang ku dengar dari laruku judulnya Jiyu e no shotai (kayanya gitu tulisannya http://www.emocutez.com)
setelah itu stay away, killing me, new world, hitomi no jyunin, nidji,,,semuanya. Sumpah keren banget komposisi musik mereka. Musik yang sangat berbeda dari yang pernah ku dengar saat itu. Hyde,,,dengan khas suaranya yang dalem banget (namanya suara apa ya???), Ken… permainan gitarnya yang bikin bulu kuduk merinding (kaya http://www.emocutez.com..haa), Tetshu…yang paling ku suka. Karna permainan bassnya yang atraktif,,beda dengan bassis yang laen yang pernah ku dengar, salah satunya dalam lagu Blurry Eyes (keren kan http://www.emocutez.com),,terakhir ada Yukihiro…yang ku suka dari dia, kalo lagi maen drum cool banget…setiap pukulan yang dihentakkannya unik namun pas. Unik karna pukulannya Ken itu simple aja,,,Cuma kadang buat aku bingung kalo lagi nyari drumnya…(haa,,maklum masih pemula http://www.emocutez.com) permainannya ga kalah atraktif dari Tetshu.
Lo,,ko malah ngebahas L’arc en ciel,,,,,
“Kembali ke laptop” setelah masuknya Ipay, kami menambah wawasan musik jepang….kalo latian biasanya kami bawakan lagu J’Rock…kaya Lepaskan diriku, Cahaya Mu, Mestinya Ku Akhiri Semua, Ceria (versi konser), Selamat Tinggal Kekasih Ku, Serba Salah….nah kalo sekarang, kami nyari-nyari lagu Laruku juga...dikit-dikit bisa, seperti Jiyu e no shotai, Ready Steady Go, Nidji, Blurry Eyes, Stay Away,,,ada juga lagu yang laen dari Asian Kungfu Generation dan Phsyco La Cemu.
Pernah ngikut pestival,,,punya lagu ciptaan yang jepang banget..dan bikin kumpulan ama beberapa musisi laen yang sama-sama penyuka jepang...namanya Japanise Style Comunity
Sekarang,,,Yusha udah ga ada http://www.emocutez.com. Masing-masing personilnya udah mempunyai jalan hidup masing-masing. Aku dan Ari sibuk dengan kerjaan dan ga ngeband lagi,,,tapi masih sering ngumpul bareng. Kalo Ipay kerja juga tapi masih tetap ngeband terakhir aku dengar L’Death Note nama bandnya…Kalo Jondri tetep semangat di dunia musik…tapi dengan band barunya (Hari ini cuci motor besok ujan band) udah pindah aliran,,,mereka mengusung aliran jazz.
Yusha I miss U

Kenangan berupa photo ga ada....sayangnya http://www.emocutez.com

ARMADA.....


Share/Save/Bookmark
Profil band yang kali ini Otak ulas yaitu Armada,,,mengapa??
mmm...kenapa ya? tau ahh bingong...yang pasti tiap hari selain J'Rocks,,lagu-lagu Armada menghiasi winamp ku...
ARMADA hanyalah nama baru di blantika musik Indonesia. Namun personelnya telah lama berkecimpung di dunia musik Indonesia. Terbentuk di Jakarta di pertengahan bulan Oktober 2007, band yang sebelumnya bernama Kertas ini telah meluncurkan album di tahun 2008 lalu berjudul "Balas Dendam" dengan hits single "Gagal Bercinta".
Hits tersebut cukup mendapatkan tempat di hati para pecinta musik Indonesia,terbukti berhasil menduduki posisi bergengsi di banyak radio di seluruh Indonesia,dengan periode yang cukup lama.hal ini di karenakan karakter band ARMADA yang begitu kuat dan menyuguhkan aliran music yang Berbeda.
Aliran music yang diusung oleh Armada adalah "Melancholic Pop".Aliran ini di bangun oleh karakter suara sang vokalis dan aransemen music yang begitu terasa melancholic dengan sentuhan musik yang banyak di pengaruhi oleh band - band legendaris dunia seperti The Beatles ,Queen,The Police dan band legendaris dunia lainnya.
Band ini dimotori Andith (DRUM), Rizal (VOCAL), Endra' (BASS), Mai (GUITAR) dan Radha (GUITAR). Tahun 2009, Armada band merilis album kedua 'Hal Terbesar' dengan single andalan 'Buka Hatimu'.
Menapak tilas dari nama yang sebelumnya (KERTAS).....Armada pernah tersandung masalah. Contoh kasus, ada sinetron yang menggunakan lagu mereka ketika KERTAS Band, tapi mereka sendiri malah kaget karena tidak tahu. Kasus hukumnya pun bergulir sejak Oktober 2007 silam. "Sampai saat ini kita bolak-balik ke pengadilan,' aku Radha. Tuntutan label nggak main-main, mereka meminta KERTAS Band [ketika kasus bergulir, mereka masih menggunakan nama lama --red] Rp 1,3 milyar dengan anggapan mereka sudah lalai dan akan merugi jika perjanjian batal. ARMADA bertutur, dalam kontrak sebenarnya ada promo dan kontribusi yang harus mereka terima. "Tapi dari awal, kita malah nggak dapat apa-apa dan nggak tahu apa-apa soal apa-apa yang kita terima," kata Endra Prayoga, basis kelahiran Palembang 29 November 1983.
Malah, lantaran kasihan dengan band asal Palembang ini, seorang pengacara bernama Adnan Assegaf, akhirnya menawarkan diri membantu tanpa minta bayaran sepeserpun. "Kita disupport banyak pihak sih," imbuh Rizal.
Segera berbenah. ARMADA langsung masuk ke manajemen baru. Tentu belajar dari pengalaman, kini mereka lebih berhati-hati membaca kontrak dan semua perjanjian yang menyangkut nasi band ini. "Kita sadar kok, kalau dengan ini artinya kita kembali lagi ke awal atau nol lagi," jelas Rizal pasrah.
Bicara soal album kedua, ARMADA mengaku ada beberapa perubahan yang dilakukan. "Album pertama sebenarnya kita suka, tapi album ini lebih menunjukkan siapa ARMADA sesungguhnya," tambah Andhit. "Paling tidak, ide-ide yang tidak tersalurkan di album sebelumnya, bisa kita akomodir di album ini," sambung Rizal. Kemudian kalau album pertama ada tiga lagu ciptaan orang lain, termasuk single jagoan, untuk album kedua ini semua lagu dan aransemen adalah ciptaan ARMADA. "Album ini juga lebih nge-rock!" tegas Endra nyamber.
Ciri melayu yang melekat pada vokal Rizal, juga masih kentara di album kedua. "Melayu dalam konsep kita memang lebih merujuk pada warna vokal sih," jelas Rizal, yang karakternya memang kental dengan ornamen melayu. Padahal ketika masih ngeband sendiri, mereka kerap memainkan komposisi rock ala Mr BIG atau Dream Theater.
Kasus dengan label lama, ternyata cukup berpengaruh kepada personil ARMADA. "Secara musikalitas sebenarnya tidak ada, tapi secara lirik dan cara menyanyi, bisa dibilang lebih cowok dan lebih lugas," ujar Rizal yang menolak itu disebut bagian dari "sakit hatinya" kepada label sebelumnya.
Perubahan nama juga menjadi pertimbangan mereka kepada fans. "Kita tahu, mungkin orang akan anggap kita ini band baru, tapi nggak apa-apa karena kita siap dengan konsekuensi itu kok," terang pemilik nama lengkap Tsandy Rizal Adi Pradana ini kalem.
Kini ARMADA mulai menapak dengan 'kapal yang baru' dan tentu saja dengan nakhoda baru juga. "Kami sih berharap kami berada di kapal yang benar sekarang," ujar Radha yang "akhirnya" ngomong juga. "Manajemen hanya memberi masukkan, mana yang bisa diterima pasar, mana yang tidak kok," jelas Andreas Wullur, manajernya, yang ikut nimbrung bicara.
Kasus boleh berjalan, personil ARMADA yang buta hukum pun bisa saja deg-degan dengan tuntutan label lamanya. Tapi yang namanya berkarya, toh tak bisa dihambat. Kini materi barunya sudah siap dengan label dan manajemen baru. "Kita menjagokan lagu "Gagal Bercinta" sebagai single pertama," jelas Rizal.
ARMADA mungkin bukan band pertama dari daerah yang "dikecewakan" oleh insan-insan yang "mengaku" tahu industri musik Indonesia. Istilahnya, mereka jadi "tumbal" band Palembang untuk menembus industri. Kalau sampai kini mereka tetap berdiri tegak, meski dengan segala keterbatasannya, rasanya itu sudah bisa kita acungi jempol.

berbagai sumber.

NETRAL.......


Share/Save/Bookmark

Netral adalah sebuah kelompok musik yang dibentuk pada bulan November tahun 1992. Awal kemunculan videoklip di stasiun TV saat itu (MTV Indonesia yang pada saat itu masih menjadi bagian dari Antv) dari lagu di album pertama, "Wa...lah", Kelompok musik ini..


disebut-sebut mengusung aliran Rock alternatif.
Saat terbentuk, Netral hanya terdiri dari tiga personil, yaitu :
• Bagus Dhanar Dhana (Bagus) - Vokalis dan Bassis
• Gabriel Bimo Sulaksono (Bimo) - Drummer
• Ricy Dayandani (Miten) - Gitaris
Namun saat ini posisi Drummer dan Gitaris telah diganti oleh Eno Gitara Ryanto (Eno) dan Christopher Bollemeyer (Coki). Hanya Bagus yang tersisa sebagai personil awal yang terus berlanjut hingga kini. Saat ini Netral telah beralih label ke Kancut Records, sebuah label independen, yang dibentuk oleh Bagus dan Eno sendiri.
Sejarah berdiri
Pada awalnya, Netral memainkan musik dari kelompok musik luar negeri seperti Nirvana, Sex Pistols, Sonic Youth, The Cure, dan lain-lain. Mereka juga tampil dalam acara-acara di sekolah-sekolah maupun universitas-universitas di Jabotabek. Penampilan serta atraksi mereka dipanggung membuat mereka dikagumi anak-anak remaja. Termasuk juga remaja asing yang bersekolah di Jakarta Internasional School (JIS), yang kemudian membuat band ini kerap kali diundang untuk menjadi pengisi acara rutin sekolah tersebut bernama Black Hole.
Banyaknya pementasan yang dilakukan membuat Netral semakin dewasa dalam penampilan. Sehingga mereka mulai memikirkan untuk membuat album sendiri. Pada tahun 1994, Netral mendapatkan produser untuk album perdananya. Dibawah naungan PT. Indosemar Sakti, Netral berhasil menjual lebih dari 80.000 unit kaset dan Compact Disc dari album perdana ini.
Hal ini membuat promotor-promotor Indonesia dan media asing tertarik untuk mementaskan Netral. Tercatat sebanyak lebih dari 50 pementasan dalam 1 tahun di seluruh Indonesia.
Sejak saat itu berita tentang Netral sering memenuhi halaman diberbagai media, baik cetak maupun elektronik.
Netral disebut oleh pers Indonesia dikatakan sebagai Band Alternatif. Terlepas dari yang diberikan pers Indonesia ini benar atau tidak. Yang jelas band yang dibentuk dari hasil persahabatan di SMA Negeri 55 dan SMA Negeri 60 Jakarta ini hanya memainkan musik yang benar-benar murni keluar dari hati nurani mereka sendiri. Sesuai dengan definisi musik yang kita kenal.
Musik adalah suatu bahasa yang universal yang dapat dimengerti oleh semua orang, dimana musik menyuarakan isi hati sang pemusik yang memang ingin mengeluarkan dan membagikan apa yang mereka rasakan kepada semua orang. Begitulah tekad personil awal band yang mengusung punk ini adalah Bagus Dhanar Dhana bas/vokal, Gabriel Bimo Sulaksono drum, dan Ricy Dayandani alias Miten gitar.
Berita tentang Netral juga banyak terdengar di media Elektronik dan juga di media cetak remaja. Hampir semua majalah remaja di Indonesia pernah memuat ulasan tentang band Netral, bahkan majalah sekelas Gatra memuat tentang band ini satu halaman penuh. Album kedua Netral berjudul Tidak Enak dirilis pada tanggal 30 Juli 1996 dan koferensi pers di Jazz Rock Café Jakarta dihadiri hampir seluruh rekan pers di Jakarta dan rekan pers dari daerah lainnya.
Album kedua Netral berjudul TIDAK ENAK, memang berkesan tidak enak, tetapi bila diamati ada keseriusan dan kepedulian dalam musik Netral sehingga menimbulkan suatu daya tarik bagi yang mendengarnya. Dengan lagu Bobo, boring day , dan desaku album kedua ini tidak kalah angka penjualannya dengan album pertama.
Band ini semakin dikenal banyak orang sehingga ketika band asing seperti Foo Fighters, Sonic Youth, dan Beastie Boys hadir di Indonesia pada acara Jakarta Pop Alternatif Music Festival, Netral diminta untuk menjadi pendamping band mereka. Tercatat lebih dari 50.000 orang menyaksikan pementasan Netral. Tidak hanya sukses di pementasan, namun sukses Netral juga diikuti dengan masuknya Netral dalam nominasi BASF AWARD untuk kategori pendatang baru terbaik dari group Rock terbaik. Kepribadian sederhana dan apa adanya yang dimiliki oleh Netral membuat band ini banyak disukai oleh siapapun, baik pers, promotor, produser, maupun Fans.
Daya tarik group band ini mulai berkembang seiring dengan berkembangnya era Globalisasi. Dimana suatu masyarakat tidak statis terhadap suatu pengaruh, tetapi mulai membuka diri untuk mengambil apa yang cocok dan baik buat dirinya.
Pada tanggal 16 januari 1998, Netral mengeluarkan album ketiga dengan judul “ Album Minggu Ini “ dan berlangsung menggelar tour ke-24 kota di Sumatera dan Jawa. Dengan klip video “ Pucat Pedih Serang “ buatan Rizal Mantovani, membuat penjualan album ini terus bertambah dengan adanya lagu-lagu pertama. Angka ini terus bertambah dengan adanya lagu-lagu lain yang sangat disukai pasar seperti lagu Kau, Selamat Datang, dan Dukun Kebo Ijo. Berbeda dengan album-album sebelumnya, album ini lebih mudah didengar, dengan harapan mampu menyerap pasar yang lebih luas.
Pada bulan Juli 1998, Bimo menyatakan ingin keluar karena mau mencoba warna musik baru. Walaupun berat hati namun akhirnya Netral harus melepas Bimo. Masa-masa tanpa Bimo harus dilewati dengan Additional Drummer untuk mengisi jadwal pementasan.
Atas desakkan produser, Netral harus segera mencari Drummer tetap untuk mengisi tempat yang ditinggalkan Bimo, maka setelah mempertimbangkan banyak hal, diputuskan untuk mengajak Eno sebagai Drummer tetap Netral. Maka terhitung sejak 26 Maret 1999, Eno menerima tawaran Netral dan resmi menggantikan Bimo.
Bersama Eno, akhirnya Netral dapat merilis album keempatnya yang berjudul “ PATEN “ pada tanggal 9 Juni 1999. Dengan didukung Additional Musician seperti Dhani Ahmad dan Deasy Fitri, hits Netral yang berjudul “ Nurani “ dipercaya dapat menaikkan angka penjualan album diatas 150.000 unit. Apalagi di album ini masih ada materi-materi seperti Babi, ’98, Pecah Belah, Yang Enerjik, mudah dipahami dan dapat mewakili suara-suara anak muda yang selama ini kurang didengar. Sound Guitar yang unik dan pukulan Drum Eno yang dinamis menjadikan album ini lebih matang dari album-album sebelumnya.
Pada Tahun 2001, dengan 2 orang personil aja netral merilis album ke V dengan judul “Oke Deh” dengan hits singlenya Bertarung. Album ini berisikan lagu-lagu terbaru karya Eno dan Bagus serta dibantu oleh beberapa additional gitar.
Tahun 2003, Netral mendapat satu personil baru untuk posisi gitar yaitu Coki, setelah melalui audisi yang panjang dan beberapa kali ikut sebagai additional gitar di beberapa konser musik bersama netral, maka akhirnya, coki resmi menjadi anggota netral. Di tahun yang sama, netral merilis album terbaru bertitel “Kancut” dengan single pertamanya yang berjudul - I Love You. Album ini cukup sukses dan merebut perhatian anak-anak muda karena materi album ini cukup fresh, dan unik namun memiliki ciri khas netral yang kental.
Pada akhir tahun 2003 , Netral mengeluarkan klip keduanya berjudul – Namanya Juga Netral. Lagu yang sedikit berbau bossas ini disertai lirik yang lucu dan tetap diakhiri dengan beat ala Netral yang kencang dan powerful, menjadikan lagu ini menjadi sesuatu yang baru dan unik bagi pasar musik Indonesia.
Tanggal 7 Februari 2005, netral merilis album ke VII, dengan materi 7 lagu dan hanya dicetak 7000 keping CD saja, netral bermaksud agar album ini menjadi persembahan yang special bagi para pecinta musik netral. Karena album ini hanya dicetak terbatas. Dengan menjadi produser album sendiri dengan nama “Kancut Record” , Netral merilis album “Hitam” , dengan single pertamanya – Haru Biru. Album ini disertai bonus DVD berisi film tentang pembuatan album ini. Maka menjadikan album ini sesuatu yang special dan mungkin baru pertama di Indonesia.
Bagus Dhanar Dhana (Vocals, bass) Jakarta/ January 17, 1971 Influences: The Police, Beatles, Sonic Youth, Sex Pistols
Christopher Bollemeyer (Guitar) Jakarta/ December 30, 1976 Influences: Jimi Hendrix
Eno Gitara Ryanto (Drums) Jakarta/ October 11, 1979 Influences: The Police, The Beatles, Sonic Youth, Blink 182

Sumber: wikipedia

CEWE IMUT NAN GAHAR


Share/Save/Bookmark

Setelah ngliat photo diatas,,pasti kalian udah tau arti dari judul postingan ku kali ini...yupz' kali ini aku akan membahas profil cewe imut yang satu ini...

Nama Lengkap: Prisa Adinda Arini Rianzi
Tempat/Tgl Lahir : Jakarta / 6 Januari 1988
E-mail Address : prisa.adinda@gmail.com
Pekerjaan : Musisi
Tempat Tinggal Sekarang : Jakarta
Gitar : Jackson DKMG Arch Top, Jackson USA Randy Rhoads RR1, Fender USA Telecaster Flathead Custom Shop, Martin & Co X series & Fender Strat Eric Clapton
Efek : Line 6 PODXTLive, Tonebone Hot British, Ibanez Tube Screamer 808
Ampli : Roland Cube 30
Group Band Saat ini : -
Pengalaman Band : Dead Squad, Zala
Pengaruh Musikal : Slayer, John Mayer, As I Lay Dying
Style Permainan : Metal, Pop
Teknik Favorit : Power Chord
Gitaris Favorit : Mick Thompson, Steve Vai, dll
Band Favorit : God Forbid, Trivium, As I Lay Dying, Killswitch Engage, Shadows Fall, Megadeth, Slayer, Unearth, Lamb of God, The Black Dahlia Murder,
Album Favorit : Frail Words Collaps (As I Lay Dying), Ascendency (Trivium), Unhallowed (The Black Dahlia Murder), Gone forever (God Forbid), the end of heartache (Killswitch Engage), The Subliminal Verses (Slipknot), Ashes Of The Wake (Lamb Of God), The War Within (Shadows Fall), Waking The Fallen (Avanged Sevenfolds), The Uncoming Storm (Unearth)
Lagu Yang Pertama Dipelajari : Anugerah Terindah (Sheila On 7)
Prisa Adinda Arini Rianzi atau lebih dikenal dengan Prisa pertama kali belajar gitar karena kebetulan. Sewaktu masih SMP, Prisa tinggal di asrama kemudian iseng maenin gitar punya temannya. Gara-gara dimarahin sama yang punya gitar, akhirnya Prisa bertekad balas dendam dengan ikut ekskul gitar. Akhirnya Prisa dan temannya ikut ekskul barengan sambil balapan siapa yang nantinya lebih jago.
Tahun 2005 sampai pertengahan tahun 2006 nama Prisa cukup dikenal di scene underground bersama band metalnya, Zala. Band ini cukup menyita perhatian lantaran isi personelnya cewek semua. Tapi tidak hanya sekedar menjual image saja, skill mereka juga tidak kalah sama band-band cowok. Tahun 2006 bisa dibilang sebagai tahun emasnya Prisa dimana karirnya baik secara pribadi maupun kelompok makin sukses. Secara pribadi, ia terpilih menjadi model untuk portal gitar pertama di Indonesia, Gitaris.com. Ia juga sering disebut sebagai Miss Gitaris.com karena selalu menjadi wakil Gitaris.com di berbagai event dan media. Bersama bandnya, Zala, ia beberapa kali tampil di event metal underground bahkan sampai Java Jazz 2006.
Bulan Juni 2006 kemudian Prisa tergabung dalam band baru bernama Dead Squad. Di band ini ia berpasangan dengan salah satu gitaris dari keluarga Item yang juga merupakan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Kemudian pada bulan Juli Prisa mendapat kehormatan untuk berkolaborasi dengan salah satu maestro gitar Indonesia, Eet Sjahranie dalam penampilan Edane di PRJ. Bersama Edane, Prisa tampil membawakan lagu Cry Out dan Kau Manis Kau Ibliz. Selain itu ia juga dikontrak selama 2 bulan sebagai additional gitaris dan backing vocal untuk 'band sejuta copy', Sheila On 7, yang baru ditinggal salah satu gitarisnya. Bersama SO7 sempat tampil di SCTV dalam acara World Cup 2006 dan ikut dalam tour hingga ke Malaysia.
Tahun 2006 Prisa telah memutuskan untuk berhenti dari dunia pendidikan akademis dan memilih untuk terjun sebagai musisi profesional. Langkah yang diambil oleh Prisa untuk masuk ke industri musik adalah merilis album solo perdananya yang beraliran pop. Rencananya album tersebut akan dirilis setelah lebaran tahun 2007. Sebelum albumnya dirilis ia terlebih dahulu tampil sebagai 'guest musician' di album ke-2 J-Rocks sebagai vocalis dan gitaris untuk single Kau Curi Lagi. Prisa juga memiliki side project lain yang ia beri nama Morning Star. Morning Star merupakan project iseng lain Prisa diluar album solonya. Hal ini menjadi pembuktian dari Prisa kalau ia juga mahir dalam permainan gitar akustik.
Bulan Juli 2007 Prisa diendorse oleh pihak Jackson Guitars. Ia dikontrak untuk menggunakan gitar Jackson DKMG Arch Top. Sebuah gebrakan yang sangat fenomenal mengingat ia adalah gitaris Indonesia pertama yang diendorse oleh Jackson.
Prisa merupakan anggota dari grup musik Vendetta, sebelumnya ia pernah membentuk grup musik Zala.
Track List
1. Bunuh Saja
2. Senyawa Kisah
3. Muka Dua
4. Kesalahan Terbesar
5. Harusnya Aku
6. Rahasiaku
7. I'll Always For You
8. Penjara Cinta
9. Maafkan Aku Sus...
10. Padahal Aku Selalu Ada

PRISA IS ROCK?
Tanya tanya di belakang itu memang banyak dipertanyakan fans cewek cakep bernama Prisa Adinda Arini Rianzi ini. Antara percaya dan tidak, perempuan yang gape main gitar ini bukannya menjebol dominasi laki-laki sangar yang menjejali death-metal negeri ini, tapi malah memilih melenceng ke pop. Salahkah?Tentu saja tidak. Siapa yang membatasi pilihan seseorang? Jadi sekarang mari kita nikmati album pop pertamanya yang berjudul ‘PRISA’ [self titled]. Tak ada riff-riif gitar ala Lamb of God yang biasa dia mainkan tentu saja, tapi kita menikmati suara wanita yang gayanya masih seperti ABG yang biasa nongkrong di Plasa Senayan ini.
Oke simak-simak baik-baik single ‘Muka Dua’ yang diambil dari kantong album solonya. Ada yang menarik, saat Prisa mencoba lick gitarnya mengisi whammy bar yang mengejutkan. Lagu yang menampilkan distorsi gitar yang agak berat, tapi cuma sebatas awal-awal lagu saja. Selebihnya bar-bar manis yang lebih mendominasi.
Menjelajah album milk gitaris band death-metal cewek bernama Vendetta ini, kita dihantar oleh track berjudul ‘Bunuh Saja,’ yang lebih banyak menampilkan sound gitar akustik, lagu disambung dengan distorsi ringan. Tak ada yang istimewa di lagu ini, selain karena part-part gitarnya seutuhnya diisi oleh Prisa sendiri. Karakter vocal Prisa yang lembut mengingatkan penulis pada Vanessa Carlton.
Singkirkan dulu bayangan Prisa yang gahar di atas panggung metal. Coba perhatikan lagu ‘Rahasiaku.’ Kamu akan menemukan perempuan cantik yang berbeda, dengan karakter pop yang ringan. Lagu ini tak terlalu berat. Memiliki beat drum yang rancank, sound gitar akustik dan elektrik yang dikomposisi dengan baik [meski tetap terdengar pop-corn manis].
Prisa sedikit melompat-lompat ketika mencoba ekplorasi gitarnya di lagu lawas yang riang milik Potret, ‘Mak Comblang.’ Meski tentu saja tak meliuk-liuk dengan Jackson Guitar-nya, tapi di track ini Prisa tampaknya bisa sedikit lepas Kendali. Meski jujur saja, karakter vocal ternyata tak cocok dengan tipikal lagu seperti ini.
Album ini memang tak beda dengan album-album pop lainnya. Yang membuat orang ‘menoleh’ karena Prisa sebelumnya lebih ngetop di ranah deat-metal dibanding pop. Bunyi instrumen gitar elektrik atau akustik selalu memenuhi setiap karya yang ada. Dan itulah yang menyisakan ruang untuk Prisa.
Album ‘PRISA’ ini memang musik-industrialis pertama Prisa di arena industri. Mantan gitaris band Dead Squad ini memang tak perlu menjejali diri dengan kesungkanan yang tak penting di ranah pop. Mudahnya, persoalan materi dan kepuasan hati memang tak harus klop kan.

PROYEK AKUSTIK
Lebih dulu dikenal sebagai pengusung aliran heavy metal, Prisa justru enggan menyebut dirinya sebagai gitaris musik cadas. Dan prinsip itu memang dituangkan dalam album solonya ini, di mana dia tidak mengumbar permainan gitarnya dengan garang, malahan lebih bernuansa pop .
Ia pun tak ingin mengotak-kotakkan musiknya. ''Saya main apa saja yang saya suka. Mulai dari pop, metal, grunge, sampai blues.''
Meski begitu, Prisa masih punya satu kejutan lagi, dan yang ini sepertinya akan benar-benar mengeksplorasi kemampuannya pada beragam jenis musik. Ini merupakan proyek akustik bertajuk Morning Star. ''Ini album indie saya. Mini album tepatnya, sebab hanya berisi lima lagu,'' ungkap Prisa.
Soal tema, kembali Prisa tak beranjak dari hal-hal yang universal. Tentang hidup, misalnya, digambarkannya dalam lagu Don't Stop Running. ''Lagunya bicara tentang filosofi kebenaran. Bahwa benar itu sangat relatif menurut kacamata individu,'' ujar gitaris yang punya teknik favorit power chord ini.
Lewat album itu pula, Prisa mencoba mengeluarkan ekspresi musik folk-pop yang digandrunginya. ''Live guitar, backing vocal, dan lead vocal-nya saya isi sendiri. Tetapi, saat manggung, rencananya saya akan tampil bertiga,'' katanya.
Dengan konsep seperti itu, ia tak mungkin menawarkan mini album ini ke label. Oleh karenanya, dirinya memilih untuk menjual master dan menitipkan distribusi albumnya. ''Pihak label kan inginnya jualan,'' celetuk Prisa.
Bisa dibilang, Morning Star adalah sisi lain Prisa. Jika selama ini ia identik dengan permainan gitar yang meraung-raung, di Morning Star, Prisa bakal tampil lain. ''Sekarang, saya masih sibuk rekaman untuk proyek akustik ini.'

PRODUSER
Meski tengah mencurahkan waktu untuk mewujudkan obsesinya terkait proyek akustik, mata Prisa sudah memandang jauh ke masa depan. Penggemar boleh saja mendaulatnya sebagai 'Ratu Gitar', tetapi ia mengaku tak ingin menjadi soloist.
''Bagi saya, bermain gitar hanyalah satu langkah yang harus saya tempuh untuk merintis jalan menjadi produser,'' katanya lagi.
Prisa mengatakan dirinya lebih suka berada di belakang layar ketimbang beraksi di panggung bermandikan sinar lampu sorot. Terkait pilihannya itu, Prisa yakin kemampuan bermain alat musik penting untuk dimiliki seorang produser. Itu sebabnya, ia giat mengasah kemahirannya memainkan gitar dan piano, selain tetap menulis lirik dan menyanyi.
Ketika menjalani fasenya sebagai gitaris, Prisa mencoba melakoninya dengan totalitas tinggi. Tawaran tampil sebagai musisi tamu dimanfaatkan dengan baik, termasuk ketika berkolaborasi dengan musisi lain.
Satu panggung dengan gitaris yang lebih dulu ngetop memang mendatangkan kebanggaan tersendiri. Tetapi, sebagai musisi, Prisa juga punya prinsip.
''Sejujurnya, saya lebih senang manggung sendiri. Lebih puas untuk sound check dan bisa mengatur segalanya sesuai keinginan,'' cetus mantan personel Zala yang tahun 2005 ngetop di kalangan pecinta musik underground itu.

BELUM MURNI INSTRUMENTALIA
Sudah jamak bila seorang vokalis biasanya menjadi sosok yang paling diidolakan dalam sebuah grup band. Gitaris, drummer, bassist, atau keyboardist, tentu juga punya penggemar. ''Tetapi, di Indonesia, umumnya penggemar mereka kalah jumlah dengan fans-nya vokalis,'' celetuk Danny Sakrie, pengamat musik.
Bisa jadi, itu pula yang membuat sambutan atas penjualan album solo gitaris tak semeriah album solo seorang penyanyi band. Padahal, bagi sang gitaris, album tersebut bermakna besar.
''Belawan, Tohpati, Jubing Kristianto hingga Dewa Budjana membuatnya sebagai bentuk ekspresi musikalitas masing-masing,'' kata Denny.
Hanya saja, album mereka terpaksa tidak murni berupa suguhan instrumentalia. Soalnya, pasar musik di Tanah Air belum bisa menerima dengan baik album semacam itu.
Belawan ikut bernyanyi, dan Tohpati juga menggaet sejumlah penyanyi untuk menemani permainan gitarnya.
Dewa Budjana tampil lebih berani. Meski ada senandung vokal Dian Pramana Putra di album Home, personel band Gigi itu betul-betul mengandalkan permainan gitarnya sebagai daya tarik utama. 'Album ini cukup kuat pengaruhnya meski perjalanannya tak sehebat album dari artis penyanyi.
Prisa tak tampil untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai gitaris. Kendati namanya sudah lekat dengan aliran musik metal, gitaris muda ini menggarap ranah pop sesuai dengan kontraknya dengan pihak label rekaman. Jadilah album Prisa murni pop. Dia tampil sebagai penyanyi pop yang bisa bermain gitar
Data menarik seputar Prisa
• (2003) Additional vocal dan model video clip Seringai
• (2006 Jan) Terpilih sebagai Miss Gitaris.com
• (2006 Mar) Tampil bersama Zala di Java Jazz
• (2006 Apr) Tampil di harian Kompas 23 April 2006 dalam artikel mengenai Gitaris.com
• (2006 Mei) Talk show (Prisa + Mayzan) di GlobalTV dalam liputan mengenai Gitaris.com
• (2006 Jun) Tampil bersama Sheila On 7 di Panggung World Cup sebagai additional vocal
• (2006 Jul) Tampil bersama Edane sebagai guest gitaris di PRJ (membawakan 2 lagu)
• (2006 Jul) Tampil bersama Abdee Slank dalam sebuah klinik
• (2006 Jul) Model cover majalah Gitar Plus
• (2006 Jul - Ags) Additional gitar+vocal Sheila On 7 (Promo tour album 507) hingga ke Malaysia
• (2006 Ags) Model cover majalah HAI edisi "Sekarang Giliran Anak Metal"
• (2006 Sep) Demonstran (bersama Irvan) untuk produk kabel Analysis Plus selama 4 hari di Balai Kartini
• (2006 Nov) Tampil di majalah Trax edisi 11/2006 di column 'GirlDoYouRock'
• (2006 Des) Duet bersama Mayzan di acara gathering Gitaris.com membawakan lagu Elixir dari Marty Friedman
• (2007 Jan) Gitaris.com di O-Chanel menampilkan Prisa
• (2007 Jan) Majalah Audio Pro menampilkan profil & wawancara Prisa
• (2007 Feb) Gitaris.com di Black In News Trans 7 menampilkan Prisa
• (2007 Mar) Koran Tempo menampilkan profil Prisa.
• (2007 Ags) Tampil sebagai guest vocal + gitar J-Rocks untuk single Kau Curi Lagi
• (2007 Okt) Interview di O-Chanel
• (2007 Okt) Bintang tamu di 4 Mata (Trans 7) edisi Gitaris bersama Eet Sjahranie, Tohpati, dan Dewa Budjana
• (2007 Des) Bintang tamu di Belum Cukup Gede (Trans 7)